Kenapa lady gaga ditolak konser di indonesia

Kenapa lady gaga ditolak konser di indonesia

Diposkan oleh kutas-s admin


Kenapa konser lady gaga ditolak indonesia | Kali ini blog kutas-s akan share lagi tentang Kenapa konser lady gaga ditolak indonesia cukup mengherankan saya rasa ? apasih yg membuatnya ditolak datang ke indonesia apakah dari segi pakaiannya atau yg lain ? berikut informasinya gan sbelumnya baca ini dulu gan >> Prediksi skor athletic bilbao vs Barcelona 26 mei 2012 << Berikan prediksimu gan !
Baru usai Indonesia riuh dengan kedatangan lesbian bernama Irshad Manji, mencuat lagi Lady Gaga yang notabene merupakan penyanyi. Tak kurang, penyanyi tersebut pun harus menerima penolakan dari masyarakat, kendati yang lebih muncul adalah masyarakat Muslim. Dari sana, pantas untuk mengulik, ada apa di balik penolakan itu?

1337194672405108726

Secara pribadi, saya sendiri seorang pecinta musik. Hampir semua jenis musik saya lahap; keroncong, rock, nasyid, rock ‘n roll, pop, bahkan dangdut. Pun, saya mengenal banyak nama dan grup band, baik domestik maupun luar negeri. Tentu, tak terkecuali Britney Spears, Avril Lavigne, dan juga Lady Gaga sendiri.

Di sini, saya tertarik melihat fenomena penolakan terhadap penyanyi yang memiliki nama asli lumayan panjang itu, Stefani Joanne Angelina Germanotta, lewat kacamata budaya. Berbicara budaya, tentu tidak bisa dilepaskan dari keberadaan agama yang notabene menjadi ciri yang sudah demikian melekat di negeri ini. Dari semua agama yang ada, kebetulan yang mendominasi secara jumlah adalah Islam. Maka, masyarakat Muslim dengan semua yang ditunjukkan mereka cenderung lebih disorot oleh kalangan mana saja. Baik di dalam, bahkan sampai ke luar negeri.

Sedikit mengumpamakan soal keberadaan jumlah masyarakat Muslim yang demikian besar. Berdasar pada rujukan dari The World Factbook. CIA. 19 Maret 2009, disebutkan, Indonesia memiliki jumlah penganut agama Islam sampai dengan 240.271.522 atau 85,1% dibanding keseluruhan penduduk Indonesia.

Nah, dengan angka begitu, tak ayal ia menjadi seperti seseorang yang paling menonjol di antara orang-orang lainnya. Apa saja yang dilakukannya akan selalu menjadi perhatian. Bagi yang menyukai akan melihat sisi baiknya, sedang ketika mendapati kekurangan akan dipandang lumrah. Alasannya, dia juga manusia. Toh, tidak ada manusia yang sepenuhnya sempurna karena memang ia tidak diciptakan sebagai malaikat yang konon bersih dari dosa.

Tidak dapat dipungkiri pula, terdapat sebagian lainnya yang justru lebih tertarik untuk melihat celah keburukannya saja. Bahkan sampai menampik berbagai sisi baik yang ditunjukkannya. Baik karena jasanya sudah melindungi banyak orang, atau juga karena ia bisa membawa pengaruh besar.

Mereka yang hanya tertarik pada celah kekurangannya saja itu, cenderung secara diam-diam konsisten melihat itu-itu saja (sisi minus), dengan maksud dan tujuan agar pusat ketertarikan bisa beralih. Syukur-syukur jika beralihnya perhatian itu bisa ke arah mereka sendiri. Untuk tujuan itu, mereka mengaku sebagai orang sedarah dengannya, mengenakan baju yang sama, makan yang sama, tetapi sudah menyimpan pisau di balik baju. Jika nanti ia menemukan ruang, maka pisau itu akan ditancapkan tepat di titik yang bisa melumpuhkan orang yang bertubuh besar tadi.

Dalam konteks kehadiran Lady Gaga—yang direncanakan konser di Indonesia—tak pelak itu pun dijadikan ‘pisau’ untuk menusuk. Masyarakat Muslim yang sebagian getol kampanyekan penolakan menjadi sasaran arah pisau itu. Tidak sungkan-sungkan, mereka bisa mengarahkan pula hasutan ke banyak kalangan yang tidak tahu apa-apa, bahwa demikian menyeramkan Islam. Itu menjadi kepuasan tersendiri buat mereka.

Semoga ilustrasi itu tidak benar.

Saya lebih ingin menggambarkan bahwa mereka yang kebetulan Muslim yang melakukan penolakan itu, sudah menunjukkan inisiatifnya untuk menjaga budaya mereka sendiri untuk tidak begitu saja dikangkangi. Meski jika ingin mendebat, kenapa hanya Lady Gaga? Kenapa penyanyi-penyanyi lain semisal Avril Lavigne dan Katy Perry bisa mulus-mulus saja melenggang ke negeri ini?

Terkait itu, memang sempat berkembang anggapan bahwa para penyanyi sebelumnya itu sudah membungkam mulut banyak ormas yang menonjol dengan uang. Sedikit kurang pahami, mereka yang menuding demikian memang melihat dengan mata kepala sendiri adanya transaksi, bahwa pihak pengundang artis-artis itu membayar kepada ormas-ormas dimaksud? Sulit saya percayai.

Sedang kemudian, saya kira perlu juga melihat plus minus membanjirnya artis luar yang melakukan kunjungan untuk konser ke sini. Taruhlah jika ingin menoleh pada kasus  Lady Gaga, saya tercenung, andai ia bisa mudah masuk dan jejingkrakan di panggung negeri ini, apakah akan membawa manfaat besar?

Saya kira tidak. Tidak ada apa pun yang baik yang bisa mengilhami masyarakat Indonesia dengan penyanyi asal New York itu. Taruhlah menyebut bahwa itu sekadar hiburan, dan masyarakat membutuhkan hiburan itu. Saya kira, itu pun tidak bisa dijadikan alasan yang cukup untuk begitu saja menafikan berbagai hal yang melekat pada budaya bangsa ini: cara berpakaian, berpenampilan, dlsb. Termasuk, pada cara melihat keberadaan masyarakat yang masih apresiatif pada nilai-nilai yang jamak dianut sejak Indonesia ini belum berdiri.

Dalam pandangan pribadi, saya tidak terlalu menaruh perhatian pada soal sampul atau bungkus-bungkus demikian, memang. Alasannya, ada sisi lain yang lebih esensial. Itu adalah perihal penghormatan pada budaya sendiri. Jangan-jangan kita sudah demikian pongah mengagumi budaya luar, tetapi nyaris tidak mengenal lagi budaya sendiri. Apalagi, di mana-mana, di negeri ini dengan mudah terketemukan ekspresi keterpukauan pada segala sesuatu yang datang dari Barat. Sedang, jika ingin melihat lebih sederhana lagi, keterpukauan itu lebih isyaratkan ketidaksadaran. Tentunya, dalam ketidaksadaran, konon, makhluk halus pun leluasa masuk—ini sekadar kelakar.

Menarik mencermati kondisi akhir seputar rencana konser penyanyi yang melejit lewat album The Fame (2008) itu. Terdapat tidak sedikit kalangan yang menyayangkan pembatalan itu. Bahkan, ANTARA menurunkan berita berjudul: Larang Lady Gaga, Indikasi Kegagalan Kepolisian pada Rabu (16/5).

Pada berita itu dikatakan Eva Sundari, Anggota Komisi III DPR, bahwa Polri sudah didikte organisasi kemasyarakatan tertentu melarang konser Lady Gaga, karena alasan mempertontonkan maksiat. Saya menilai Polri tidak obyektif.”

Namun, masih ada juga tokoh yang notabene sebagai Ketua MPR RI, Taufik Kiemas yang memberi apresiasi terhadap pilihan kepolisian. Menurutnya, “Pertimbangan polisi ada betulnya juga. Selama ini, polisi selalu memberikan izin untuk artis  dari luar untuk menggelar konser di Indonesia, asalkan tidak melanggar moral dan budaya masyarakat Indonesia,” seperti dilansir KOMPAS.COM pada Selasa (15/5).

Senada dengan Taufik, Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi juga menyatakan bahwa,”Kita harus melindungi segenap bangsa Indonesia. Untuk mencegah itu, (Polda) mengambil tindakan-tindakan, daripada banyak mudharatnya,”

Sedangkan Kapolri, Timur Pradopo, menegaskan bahwa semua yang sudah diputuskan sudah melalui serangkai evaluasi. Tentu makna sudah melewati proses pertimbangan yang memadai.

Bagaimana dengan kalangan lain? Lewat Twitter memang terdapat banyak sekali twit yang menyayangkan pembatalan itu. Namun demikian, semoga pemandangan demikian bisa lebih menegaskan bahwa bangsa ini masih sangat menjaga budaya yang tumbuh di negerinya


Okedeh sekian aja postingan blog kutas-s tentang Kenapa konser lady gaga ditolak indonesia semoga bermanfaat dan jangan lupa share !!

Rating: 5
Posted by: Novendi Rihsan

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar